Friday, October 30, 2015

Update Listing Grup WA KSL

Per 23 April 2016
Jumlah member : 88 orang

Aarron Taneli : 0857-7889-8807
Afandi : 0878-8008-1119
Agus : 08571-4718-262
Agus Wiyono : 0811-112-010
Alfonso Kenny : 0838-1184-0134
Andre Arifin : 0899-9938-888
Andreas Henry : 0813-1102-8330
Angelina Tirtadinata : 0813-8017-5723
Anton Oetama : 0816-740-067
Antoni : 0852-8900-0455
Astri Arna : 0817-260-711
Aurelia Airin : 0812-1888-3488
Ayung Raharja : 0816-735-836

Carolina Purwanti : 0817-4851-657
Charles : 0812-8208-3619

Darron Taniel : 0857-7889-7707
Dhani Andriawan : 0856-8188-188
Djaya Santoso : 0812-1903-2789
Desy Devianti : 0813-1014-7744

Eko Kuncoro : 0812-8563-882

Firman Gondo : 0816-1172-869
Franky Umar : 0878-7808-6999
Frans Winoto : 0816-781-773
Freddy : 0812-9798-2342

Gita Prasetyo : 0878-8258-8899

Hafaz Redjamat : 0816-910-104
Haji Heru : 0819-9478-9306
Harianto : 0819-1675-3378
Hendriawan Budiman : 0895-2935-1955
Henry Indrajaya : 0818-748-646
Hermawan : 0878-7770-0578
Herry Sumanto : 0813-3313-1558
Hery Susanto : 0816-3204-321

Ida Ayu Setia P. : 0818-100-565
Iwan Gunawam : 0815-9991-918
Ine Bayina Redjamat : 0818-947-099
Intan Echizen : 0813-8860-5452
Ios Redjamat : 0813-1841-8450
Irwan Tirtasenjaya : 0818-0290-1573
Irvin Tirtasenjaya : 0813-1779-9913
Ivan Redjamat : 0857-2244-6768

Jimmy Hendra : 0812-9786-7776
Johnny Lee : 0878-8877-7288
Julius Tirta Senjaya : 0816-559-140

Leo Pramuka : 0816-861-820
Lie Ciing : 0812-8439-507
Lies Liestiowati : 0811-1883-319
Lucia Aprilla : 0812-1282-5576
Luciana Tari : 0812-9379-575
Lucius Dinto Pramudyo : 0817-756-909

Mario : 0878-7737-4547
Mey Fung : 0878-7636-0739
Michael Gordon : 0811-911-395
Muljani Kurnia : 0811-9781-966
Mulyadi : 0857-1990-9039

Nathasa Shella : 0813-8723-2859
Nawangsari Susanti : 0812-1828-8625

Patricia Raharja : 0815-1901-7371
Peter Sumariyoto : 0815-8651-9459

Rachmad Santoso : 0896-7488-2829
Regina Konig : 0856-9458-3899
Restu Hendharto : 0818-0606-6418
Rissa Liu : 0878-8019-0388
Robin Sugiarto : 0896-6332-7889

Sarah : 0857-1971-2478
Sri Hermiati :  0878-7758-7087
Stefani Christianti : 0815-967-4767
Stephanus Tirta : 083-8061-4600
Sudianto Atek : 0815-1634-833
Sutopo : 0813-1155-0009
Sutta DK : 0812-6851-7000
Suyono Dharmika : 0818-0838-2290

Teddy Lie : 0857-1153-1331
Tommy Nindyo : 0856-9035-272
Tono Purwantono : 0812-1120-507
Tonie Habibie : 0878.2592.6733
Tony Saputra : 0877-8900-2339

Vicentia Anastasha : 0878-8565-6988
Vincentius Hoky : 0878-7399-7151

Wahyu Adji Susanto : 0877-7166-6810
Wawan Setiawan : 0858-1340-3797
Willy : 0895-1605-8023
Woldiny Magico : 0896-0842-7378
Wong Siaw Min : 0851-0080-0849

Yan Boendoro : 0818-718-700
Yeniawati Widjaja : 0819-1207-9898
Yenni : 0858-4650-9711
Yovi Purwono : 0818-269-889
Yus Suyono : 0878-8756-6969

Wednesday, October 21, 2015

Pelayanan dan Pertumbuhan Spiritual


Terdapat hubungan yang sangat erat antara pelayanan dan pertumbuhan spiritual seseorang. Pelayanan adalah sarana yang tidak kalah penting dalam mengembangkan kehidupan spiritual, tidak kalah penting dibandingkan refleksi, studi, doa atau meditasi. Melalui pelayanan, seseorang belajar mencapai kematangan spiritual dan sekaligus seseorang memiliki kesempatan untuk membagikan kekuatan-kekuatan spiritual.

Pelayanan akan menjadi suatu praktik spiritual yang menarik bila dilakukan dari kedalaman. Pelayanan yang dilakukan hanya sebatas sebagai kewajiban moral, tuntutan agama, tren sosial, alat untuk menaikkan status atau popularitas bukanlah suatu praktik spiritual.

Pelayanan menjadi sebuah praktik spiritual apabila pelayanan pertama-tama menjadi kesempatan untuk berlatih melepaskan ego atau kepentingan diri dan memusatkan diri pada kepentingan sesama. Terdapat banyak praktik pelayanan atau karya-karya yang hebat yang bermanfaat bagi orang lain. Namun demikian, selama suatu pelayanan atau karya hebat masih digerakkan oleh ego, atau dipakai sebagai alat untuk memperkuat ego, maka pelayanan tersebut bukanlah praktik spiritual.

Pelayanan juga menjadi praktik spiritual apabila pelayanan tersebut menjadi kesempatan untuk menemukan nilai suatu tindakan dalam tindakan itu sendiri. Seorang murid bertanya kepada gurunya, “Adakah tindakan yang bisa membawa orang kepada pencerahan?” Gurunya menjawab, “Apabila Anda melakukan suatu tindakan dan menemukan nilai dari suatu tindakan di dalam tindakan itu sendiri, maka Anda tercerahkan.”

Dengan berlatih menyadari dan melepaskan kelekatan-kelekatan pada hasil yang diharapkan dari suatu tindakan, dan menemukan nilai tindakan bukan di luar tindakan tersebut, maka orang tersebut sedang melakukan praktik spiritual melalui tindakan atau pelayanan yang sedang dia lakukan. Bila Anda bersemangat dalam bekerja semata-mata karena upahnya besar, maka pekerjaan Anda tidak membawa kepada pencerahan. Sebaliknya, apabila Anda bersemangat dalam bekerja karena menemukan nilai dalam pekerjaan itu sendiri, dan menganggap upah yang Anda terima tidak lebih sebagai bonus, maka pekerjaan Anda telah membawa Anda pada pencerahan.

Dengan melepaskan ego atau kepentingan diri, belajar memusatkan perhatian pada kebutuhan sesama, belajar menyadari dan melepaskan kelekatan-kelekatan pada hasil yang kita inginkan, maka kita secara alamiah akan dipertemukan dengan Sesuatu yang Lain yang jauh lebih besar dari apa saja yang kita kenal. Sesuatu yang Lain ini bisa dinamai dengan istilah “Allah”, “Cinta, “Kecerdasan Ilahi”, “Kesadaran Agung”, “Kekuatan dari Dalam”, atau tidak perlu diberi nama.

Mahatma Gandhi pernah mengatakan begini, “The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others.” (Cara terbaik untuk menemukan diri adalah dengan melepaskan diri melalui pelayanan kepada sesama.) Sesungguhnya, dengan melepaskan diri sendiri, kita bukan hanya menemukan diri kita yang sesungguhnya, tetapi juga kita dipertemukan secara alamiah dengan “Allah” atau kita ditemukan di dalam “Allah”.

Apabila kita berakar pada dimensi kedalaman dan terhubung dengan sesuatu yang lain ini, maka terdapat rasa kepenuhan atau kelimpahan. Rasa kepenuhan atau kelimpahan ini tidak ada kaitan dengan berapa banyak hal dari dunia bentuk—uang, materi, pengakuan dari luar—kita miliki. Anda tidak perlu memiliki sesuatu untuk bisa merasakan kelimpahan atau kepenuhan di dalam hati. Hanya ketika Anda bersentuhan dengan dimensi kedalaman ini, maka rasa kepenuhan atau kelimpahan itu mekar secara alamiah seperti sebuah bunga yang mekar secara penuh ketika ia telah berada pada kondisinya yang matang.

Begitu Anda menemukan rasa kepenuhan atau kelimpahan dari dalam hati, dan Anda mulai bertindak dari kedalaman dengan menjadikan tindakan Anda sebagai wujud kepenuhan dari dalam ini, hampir bisa dipastikan segala kebaikan akan dipertemukan kepada Anda. Barangkali Anda terkaget-kaget karena Anda tiba-tibat dipertemukan dengan orang-orang yang datang memberikan pertolongan tepat pada saatnya. Barangkali Anda dipertemukan dengan pekerjaan yang cocok dengan minat Anda. Barangkali Anda dipertemukan dengan situasi-situasi yang membuat Anda tumbuh lebih matang dan kuat.

Ketika Anda mulai hidup dari kedalaman—dengan menyadari dan melepaskan ego, menyadari dan melepaskan kelekatan pada hasil, menemukan nilai tindakan dalam tindakan, terhubung dengan sesuatu yang lain, merasakan kepenuhan atau kelimpahan–Anda selalu berada dalam pelayanan kepada orang lain. Apapun yang Anda lakukan—memasak, menghidangkan makanan, mengurus pekerjaan rumah tangga, menjalankan bisnis, bekerja di kantor, mengajar, terlibat dalam kegiatan sosial atau keagamaan, menemani orang lain atau menolong sesama yang membutuhkan—bisa menjadi suatu manifestasi dari kepenuhan atau kelimpahan dari dalam hati.

Anda bisa melakukan karya-karya hebat atau pelayanan-pelayanan besar dalam ukuran penilaian dunia hanya dengan kekuatan ego Anda. Tetapi Anda tidak mungkin bisa melakukan pelayanan terbesar sebagai suatu praktik spiritual tanpa bersentuhan secara aktual dengan Sesuatu yang Lain ini. Anda boleh bangga telah berkontribusi bagi suatu gerakan-gerakan kebaikan yang besar, namun itu tidak ada artinya apapun secara spiritual bila tidak terdapat rasa kepenuhan atau kelimpahan dari dalam hati, bila tidak terdapat realisasi bahwa Anda bukan siapa-siapa kecuali hanya sebagai sarana bagi Kekuatan dari Dalam untuk mewujud keluar.

Tanpa menyentuh dimensi kedalaman ini, cepat atau lambat Anda akan mengalami kehabisan energi, karena Anda terus-menerus berusaha untuk berkarya, melayani, memberi dan menolong, dan kemudian Anda terus-menerus mengeluh, tidak puas atau tidak bisa melakukannya lagi. Oleh karena itu, kapanpun Anda menolong orang lain, melayani, melakukan tindakan kebaikan, atau melakukan pekerjaan sehari-hari musti terdapat praktik untuk berakar pada Kesadaran Agung sebagai Keberadaan Anda yang terdalam (being rooted in the the Great Awareness as your Ultimate Being). Tindakan apapun kemudian timbul, berlangsung dan kembali pada kedalaman ini.

Begitu Anda berakar atau menyentuh dimensi kedalaman ini, maka Anda tahu bahwa sesungguhnya bukan “keakuan” Anda yang bertindak, melainkan Sesuatu yang Lain yang lebih besar dari diri Anda yang menggerakkan tindakan tersebut; dan Anda menyadari bahwa kepenuhan atau kelimpahan itu adalah bagian tak terpisahkan dari hidup Anda. Anda tahu bahwa Anda bukanlah aktor, melainkan “kendaraan”, “medium”, atau “alat” yang dipakai oleh Kecerdasan Ilahi untuk mewujud ke luar di tengah dunia.

Rasa kepenuhan atau kelimpahan mudah ditemukan dengan melihat kepenuhan atau kelimpahan di luar. Wujud dari seluruh kelimpahan bukanlah di luar Anda. Ia adalah bagian dari siapa Anda yang sesungguhnya. Lihatlah sekeliling Anda. Kelimpahan di luar—keindahan bunga, kehangatan matahari, kelenturan air, kebebasan burung-burung di udara, kestabilan gerak bumi, keceriaan anak-anak, ketulusan tetangga Anda, kemurahan hati sesama—dapat membangkitkan kelimpahan yang tidur di dalam diri Anda. Biarkanlah kelimpahan di luar ini menggetarkan kelimpahan di dalam diri Anda dan menjadikannya mengalir ke luar.

Melihat diri sendiri sebagai serba kekurangan, merasa bahwa orang lain atau dunia menahan apa yang Anda butuhkan, dan percaya bahwa Anda tidak memiliki kebaikan apapun untuk diberikan kepada orang lain adalah permainan ego semata yang menghalang-halangi Anda untuk hidup berkelimpahan.

Sekarang camkanlah bahwa mengakui kebaikan yang sudah ada dalam hidup Anda adalah fondasi dari seluruh kelimpahan. Sebaliknya, merasa serba kekurangan menjadi landasan bagi hidup yang jauh dari kelimpahan.

Faktanya adalah apa pun yang Anda rasa ditahan oleh alam semesta atau Tuhan bagi Anda, sesungguhnya ego Anda sendirilah yang menahannya dari Dunia atau Tuhan. Ego Anda menahannya karena di lubuk hati, Anda merasa Anda kecil dan bahwa Anda tidak mempunyai apapun untuk diberikan.

Segera setelah Anda merasakan kepenuhan dari dalam dan mulai memberi—Anda bukan sebagai “aktor” tetapi sebagai “alat”–Anda akan mulai menerima. Yang Anda berikan pertama-tama adalah segala hal yang bersifat spiritual; mewujudkannya secara material adalah hal lain yang bersifat sekunder. Anda tidak akan menerima apa yang tidak Anda berikan. Apapun yang Anda rasakan disembunyikan alam semesta dari Anda, sesungguhnya sudah Anda miliki, namun Anda hanya perlu untuk mengijinkan ini mengalir ke luar dan menjadi kelimpahan. Apabila Anda menahan untuk memberikan kebaikan kepada orang lain, maka Anda sedang menahan alam semesta untuk mendatangkan kebaikan kepada Anda.

Salam.
Romo Johanes Sudrijanta SJ.

Meditasi Cinta


Menurut Erich Fromm, seorang pakar psikologi dalam bukunya (The Art of Loving) menyatakan bahwa cinta itu mempunyai empat gejala, yaitu:
* care,
* responsibility,
* respect
* knowledge.
.
Keempat gejala tersebut muncul semua secara seimbang dalam pribadi yang mencintai.

Secara fisika :
CINTA adalah ENERGI.
Cinta adalah GELOMBANG
Cinta adalah GETARAN
Cinta adalah ENERGI.

Sesuai hukum Kekekalan Energi, bahwa energi itu tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan,
Tetapi DAPAT berubah bentuk.

Begitupun cinta, cinta tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan,
karena cinta hanya dapat berubah bentuk, misalnya menjadi benci, sebal, biasa saja, atau sangat cinta, dll.
.
#Cinta adalah getaran.
Getaran ini berpusat pada perasaan halus dalam diri manusia.
Cinta seperti peristiwa resonansi.
RESONANSI itu adalah peristiwa IKUT bergetarnya suatu benda karena bergetarnya benda lain.
Benda itu ikut bergetar karena perSAMAan RESONANSI.
Tidak heran jika orang yang jatuh cinta dapat menggetarkan hati orang yang dicintainya.
Ini semua karena hati mereka sedang pada FREKUENSI yang SAMA.

Cinta adalah GELOMBANG.
RESONANSI tidak akan terjadi jika frekuensi gelombangnya berbeda.
Frekuensi gelombang yang sama berarti gelombangnya SAMA dan SEFASA (baca: ukurannya sama persis).
Jika kedua gelombang ini bertemu maka gelombang-gelombang itu akan MENYATU, menjadi satu gelombang yang lambda-nya menjadi dua kali lipat lambda gelombang awal. ::: (lambda adalah panjang gelombang)
Hal ini lah yang memberikan efek BÅHÅGiÅ, SENANG, dan mempunyai energi lebih saat bertemu.
Karena CINTA memberikan KEKUATAN ENERGI dua kali lipat, bahkan lebih.

Penelitian yang dilakukan tahun 2008 oleh psikolog Barbara Frederickson dari University of North Carolina, melibatkan 139 orang, menunjukkan bahwa melakukan Meditasi Cinta secara konsisten selama 7 minggu meningkatkan perasaan positif seperti cinta, bahagia, syukur, puas, pengharapan, rasa diri berharga, perhatian, girang, dan kagum.

Semua ini memengaruhi pelaku meditasi dalam banyak hal. Mereka merasa lebih tahu tujuan yang ingin dicapai dan merasa lebih mampu menjalani hidup dengan lebih baik. Mereka juga menikmati peningkatan kualitas kesehatan dan relasi yang lebih baik.
Kehidupan dan dunia adalah refleksi kesadaran masing-masing,
baik kesadaran personal, maupun universal.

Dan jika demikian, sederhananya, kalau kehidupan tampak downgrade maka upgrade lah kualitas kesadaran.

Silahkan saja praktekkan yang paling sederhana; saat anda tersenyum, saat anda gerakkan hati anda, seluruh bagian dlm diri anda, beserta seluruh aspek kehidupan anda untuk "tersenyum" maka seluruh dunia nampak lebih ceria, sama seperti saat anda sedang bersedih seluruh dunia nampak muram atau bahkan mengenaskan.

Membentuk kebiasaan BARU adalah metode untuk membentuk kualitas kesadaran BARU, dan membentuk kesadaran baru adalah cara untuk mengalami keHIDUPan yang juga BARU

By : VitaHerlina

Tuesday, October 20, 2015

Hidup Beragama vs Hidup Berkesadaran


Romo, saat ini saya masih misa setiap minggu dan ikut membantu lingkungan /paroki. Tapi sesungguhnya sudah beberapa lama saya berpikir untuk tidak beragama saja. Saya menghargai ajaran kebajikan, kebijaksanaan dan kasih dari semua agama. Namun aturan-aturan keagamaan menurut pemikiran saya justru menjebak orang merasa diri sudah suci atau sebaliknya merasa dosa hanya karena tidak mengikuti aturan yang berlaku dalam agama yang dianutnya.

Hampir dua tahun ini saya tidak masuk kamar pengakuan. Hati kecil bergumul, antara kata-kata pastor yang mengingatkan untuk tidak menerima komuni kalau tidak bertobat dan kesadaran bahwa bukan pengakuan yang bisa membuat saya menghindari dosa.
Saya sering bersyukur dalam hati, bahwa saya pernah belajar memahami apa itu kesadaran (awareness). Dalam kehidupan sehari-hari dimanapun, dalam kondisi apapun, kekuatan kesadaran bisa mengendalikan tindakan dan pikiran-pikiran jahat yang bisa kapan saja muncul.

Kesadaran segera meredam emosi yang suka meledak bila keadaaan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Bahkan kekuatan kesadaran itu juga yang membuat saya bisa belajar mengurangi rasa sakit di beberapa bagian tubuh yang dipicu kondisi stres.

Belajar melepas kotoran-kotoran batin dan segala keinginan juga sangat membantu saya lebih tenang sehingga tidak salah-salah mengambil keputusan.

Pandangan seperti ini membuat saya merasa bukan agama yang menjadikan seseorang hidup lebih baik, melainkan hidup berkesadaran. Hidup berkesadaran adalah spiritualitas murni. Hidup berkesadaran inilah yang membawa kepada hidup tanpa-diri (no-ego/no-self) dan hidup tanpa-diri itulah yang menghasilkan tindakan-tindakan kebajikan. (NN)
===

Halo NN,
Terimakasih sudah berbagi pengalaman.

Apa yang Anda rasakan tidak keliru: bukan agama yang mengubah orang, tetapi hidup berkesadaran. Apabila agama ingin memberi kontribusi pada perubahan manusia secara mendasar, maka aspek kesadaran harus lebih dikembangkan. Sekarang ini yang dikembangkan masih kuat pada aspek ritual, intelektual dan institusional. Maka orang-orang beragama butuh lebih banyak pencerahan. Bisa jadi bukan orang yang tidak beragama yang lebih membutuhkan pencerahan, tetapi orang-orang yang beragama. Kehadiran kita di tengah komunitas beragama diharapkan memberi warna yang berbeda.

Love n Light,
Romo Johanes Sudrijanta SJ.

Sunday, October 18, 2015

Kita Adalah Makluk Spiritual

Sesungguhnya masing-masing dari kita adalah makluk spiritual yang sedang menjalani hidup dalam tubuh manusia.

Hati kita dengan getarannya yang senantiasa mendorong kita untuk menyatakan belas kasih adalah kesadaran kita terdalam yang adalah jati diri kita selaku makluk spiritual dan ilahiah.

Maka pulang kembali ke rumah Tuhan adalah suatu perjalanan kembali ke asal usul kesadaran kita selaku makluk spiritual.

Bukan perjalanan kemana-mana, melainkan membangkitkan kembali hati penuh cinta sebagai cara untuk menjalani hidup ini melalui pikiran, kata-kata dan perbuatan penuh cinta yang artinya hidup dalam dan dengan cara-cara kasih Tuhan.

Namaste (Salam hormat bagi roh suci yang tinggal dalam ragamu)

Sony H. Waluyo
Spiritualis

Saturday, October 17, 2015

Hukum Keselarasan dan Sinkronisasi


Dalam ilmu fisika kuantum, dikenal dalil BELL tentang nonlokalitas, yang menunjukkan bagaimana aksi dari satu partikel di satu tempat dapat mempengaruhi aksi partikel lain yang berada dalam jarak yang cukup jauh sekalipun.

Begitu juga pada manusia dimanapun kita berada.. karena kita hidup bersama dalam alam semesta dimana dalam segala hal kita saling berhubungan. Energi bergetar tanpa henti di dalam dan di sekitar kita setiap saat, menghubungkan diri kita satu sama lain dengan aliran konstan dari energy dan kejadian semesta.

Ketika kita berada dalam keselarasan semesta, maka kita akan bergerak ke satu arus kelimpahan dan berkat tanpa henti, yang aktif di segala penjuru dunia.

Sebaliknya, bila kita keluar dari keselarasan semesta, maka kita akan menarik diri dan keluar dari aliran kelimpahan dan berhenti, sehingga hanya bisa menyaksikan berlalunya berkat itu.

Dalam hal ini keselarasan energi adalah kunci menuju terjadinya fenomena sinkronisasi yang bersifat gaib, tempat dimana energi-energi  dengan sempurna disatukan, sehingga terbukalah pintu dari dunia yang penuh dengan keajaiban. Keselarasan energi ini memunculkan gabungan berbagai peristiwa kebetulan yang mengejutkan namun membuahkan hasil yang nyata.

Manakala sinkronisasi sebagai akibat adanya keselarasan antara diri kita dengan alam semesta terjadi, maka akan bermunculan secara kebetulan persis apa saja yang kita butuhkan.. tempat yang tepat, waktu yang tepat, muncul pula orang-orang yang tepat yang pada saat yang tepat dapat membantu kita, informasi yang tepat ketika kita membutuhkannya, inspirasi yang muncul dengan tidak disangka-sangka, juga termasuk sesuatu yang terjadi ujug-ujug .

Anda harus membaca catatan saya ini. Semua bukan hanya kebetulan, tetapi itulah SINKRONISASI.

Love, Light, Joy
Sonny Sumarsono Wuryadi

Religius vs Spiritual


Masyarakat kita sering dikatakan sebagai masyarakat yang  religius, tetapi mengapa kejahatan & korupsi merajalela ?

ORANG RELIGIUS :
Adalah orang yang agamis, rajin beribadah, dan terlihat dari penampilannya (mis : berjubah, berjilbab, berkalung, bertasbih, bertopi dll).

ORANG SPIRITUAL :
Adalah orang yang baik, bukan hanya dalam menjalankan agama/ibadah saja, tetapi ia baik DIMANAPUN ia berada.

Ada 5 perbedaan antara orang yang religius dan spiritual :

1. Orang religius menganggap Tuhan itu ADA. Orang yang melakukan perbuatan tidak baik karena menganggap Tuhan itu hanya ada, tetapi tidak hadir.
Orang spiritual menganggap Tuhan itu HADIR, karena ia berpikir bahwa Tuhan itu ada dimanapun dia berada (hadir).

2. Orang religius adalah orang yang merasa paling suci dan PALING benar dibandingkan orang lain.
Orang spiritual menganggap semua orang SETARA, mengakui kelebihan dan kekurangan orang lain.

3. Orang religius mudah melihat PERBEDAAN. Karena orang religius mudah melihat perbedaan, maka orang religius membedakan dunia jadi KAMI dan MEREKA.
Orang spiritual mudah melihat PERSAMAAN. Orang spiritual merasa KITA ini sama, KITA semua saudara, KITA sesama hamba Allah, shg mudah melihat kesamaan.

4.  Orang religius hanya mementingkan SIMBOL2, pakaian, ritual, warna dll.
Orang spiritual mementingkan ESENSI (=hakikat) dan MAKNA bukan hanya simbol2 dll.
Orang spiritual sadar bahwa Tuhan mengutus kita kebumi untuk sebuah maksud yaitu berbuat baik. Religius adalah “CARANYA”, sedangkan Spiritual adalah “MENGAPAnya”. Contohnya di sekolah kita diajarkan bagaimana "caranya" beribadah. Tapi tidak diajarkan "mengapa" kita harus beribadah. Sehingga pengajaran di sekolah telah kehilangan esensi/hakikat.

Note :
* Agama jika digambarkan seperti 2 lingkaran :
Lingkaran paling DALAM/intinya adalah SPIRITUALITAS (WHY = mengapanya), sedangkan lingkaran paling LUAR adalah RELIGIUSITAS (HOW = caranya).

* Orang religius merasa lega setelah beribadah karena merasa sudah melaksanakan kewajibannya. Tetapi yang tidak spiritual, tidak mencegah dia untuk berbuat jelek (korupsi dll).

* Orang spiritual itu “MEMPERHATIKAN”
Orang religius hanya “MELIHAT”.

* Orang spiritual itu “MENDENGARKAN”.
   Orang religius :  "HANYA MENDENGAR"

5. Orang religius baik dalam urusan ibadah SAJA.
Orang spiritual baik dalam semua urusan, karena bagi orang spiritual SEMUA URUSAN adalah ibadah.
Bekerja, meng-coach bawahan, melayani dll adalah ibadah.

🌺 Simbol itu penting untuk menunjukkan siapa kita, tetapi yang lebih penting lagi adalah hakikatnya.
Tanpa spiritual, ibadah yang dilakukan hanya menjadi RITUAL SEMATA.

🌺 Ritual agama diperlukan, tapi harus dilakukan dengan kesadaran dan cinta kepada Tuhan, karena religius adalah CARA untuk menjadi spiritual. Kita juga bisa menjadi spiritual tanpa melakukan hal2 yang religius, tapi hal itu tidaklah lengkap, karena beragama tanpa ibadah TIDAKLAH LENGKAP.

🌺 Untuk menjadi orang yang spiritual kita harus ingat dengan esensi dan hakekat kita ada di dunia ini, dan mencari MAKNA dari setiap  kejadian dan apa yang kita lakukan.

🌺 Apakah kita sudah spiritual ? Hanya orang spiritual yang dapat merasakan KEBAHAGIAAN !!!

Semoga bermanfaat !

Awal Agustus 2015.